‘Ulum Al-Quran BAB Makkiyah dan Madaniyah-Bagian 1

Oleh Tsabitah Naqiyah

Al-Qur’an adalah mu’jizat terbesar yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi ummat seluruh alam. Untuk memudahkan dalam memahami dan mempelajarinya, para ulama berijtihad dengan menghadirkan ‘Ulum Al-Qur’an, yaitu suatu cabang ilmu yang berisi kumpulan mengenai ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di di dalamnya. Menurut terminologi, imam Assuyuthi berkata mengenai ulumul qur’an dalam kitabnya Itmamu Ad-dirayah :
علم يبحث فيه عن احوال الكتاب العزيز من جهة نزوله وسنده وادابهوالفاظه ومعانيه المتعلقة بالاحكام وغير ذالكّ.
“Ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya, adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya”.

Dalam kitab Al-Itqan, imam Assuyuthi menguraikan sebanyak 80 cabang ilmu dan tiap-tiap cabang terdapat beberapa macam cabang ilmu lagi. Salah satu pembahasan yang penting untuk bisa memahami Al-Qur’an dan mempelajari ilmu Al-Qur’an adalah mengetahui asbabun nuzul dan mengetahui bagian ayat atau surat yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya, serta surat yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya. Mengetahui surat yang diturunkan di Makkah tetapi hukumnya Madaniyah atau surat yang diturunkan di Madinah tetapi hukumnya Makkiyah atau ayat yang turun di Mekkah tetapi ditujukan untuk ahlul Madinah atau sebaliknya, serta ayat-ayat yang tempat turunnya masih menjadi ikhtilaf para ulama.

A. Pengertian Makki dan Madani
Secara bahasa, Makki adalah Makkah dan Madani adalah Madinah. Sedangkan pengertian Makki dan Madani secara istilah terdapat tiga pengertian yang dipakai oleh para ulama’ dalam mengartikan Makki dan Madani, yaitu :
Pertama : Makki adalah sesuatu (ayat atau surat) yang turun sebelum hijrah. Sedangkan Madani adalah sesuatu yang turun setelah hijrah, entah itu turun turun di Makkah atau di Madinah, pada tahun fathu Makkah atau haji wada’, atau turun ketika Rasulullah tengah berada dalam perjalanan.
Kedua : Makki adalah sesuatu yang turun di Makkah, sedangkan madani adalah sesuatu yang turun di Madinah, entah itu turun sebelum hijrah atau setelah hijrah. Jika mengacu pada definisi ini, maka bagaimana dengan ayat atau surat yang turun pada saat Rasulullah SAW berada dalam suatu perjalanan antara Makkah dan Madinah?
Diriwayatkan oleh Thabrani dari Al-Walid bin Muslim, dari ‘Ufair bin Mu’dan, dari Ibnu Amir dan dari Abi Umamah berkata, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Al-Quran diturunkan di tiga tempat : Makkah, Madinah dan Syam.”
Al-Walid berkata bahwa yang dimaksud dengan Syam adalah Baitul Maqdis. Sedangkan Ibnu Katsir berkata bahwa yang dimaksud adalah Tabuk.
Oleh karena itu, Assuyuthi berkata dalam kitabnya Al-Itqan bahwa yang dimaksud dengan Makkiyah adalah sesuatu yang turun di Makkah dan termasuk di dalamnya daerah yang berada di sekitarnya, seperti yang turun di Mina, ‘Arafah dan Hudaibiyah. Begitupun Madaniyah, termasuk di dalamnya ayat atau surat yang turun di daerah sekitar Madinah seperti Badar dan Uhud.
Ketiga : Makki adalah sesuatu yang khitabnya ditujukan untuk masyarakat Makkah, sedangkan Madani adalah sesuatu yang khitabnya ditujukan untuk masyarakat Madinah dan perkataan ini mengacu pada pendapat Ibnu Mas’ud.

B. Cara mengetahui ayat Makkiyah dan Madaniyah

Ilmu tentang Makkiyah dan Madaniyah termasuk dalam ilmu riwayah. Oleh karena itu, menurut Al-Baqillani, cara mengetahui apakah ayat tersebut Madaniyah adalah dengan merujuk kepada perkataan para sahabat dan tabi’in. Sebab, hal ini tidak dinyatakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW secara terang-terangan. Para sahabat telah menyaksikan langsung waktu, tempat dan obyek yang menjadi sasaran turunnya suatu ayat atau surat. Rasulullah telah menyampaikan kepada mereka, kemudian mereka menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah kepada kita. Bukan hanya itu, mereka juga menyampaikan sebab diturunkannya ayat serta tempat dan waktunya, mana yang diturunkan di malam atau siang hari, saat waktu Rasulullah berada dalam perjalanan atau tidak, di musim panas atau dingin dan seterusnya.

Ibnu Mas’ud RA pernah meriwayatkan dalam sebuah atsar :
“والله الذي لا إله غيره مانزلت سورة من كتاب الله إلا وأنا أعلم أين نزلت، ولا نزلت أية من كتاب الله إلا و أنا أعلم فيما أنزلت ولو أعلم أحدا أعلم مني بكتاب الله تبلغه الإبل لركبت اليه”
Demi Allah Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidak satupun dari Kitabullah ini yang diturunkan kecuali aku mengetahui di mana ia diturunkan, dan tidak ada satu ayat pun dari Kitabullah ini diturunkan kecuali aku mengetahui dalam konteks apa ia diturunkan. Kalau aku tahu ada orang yang lebih tahu daripada aku mengenai Kitabullah, yang bisa aku jangkau dengan unta, pasti aku akan mengendarainya kesana (HR. Bukhori)

Karena itu, masalah Makkiyah dan Madaniyah adalah masalah sima’i. Maksudnya adalah, rujukan utama untuk mengetahui hal tersebut berasal dari pendengaran melalui para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Pernyataan mereka dalam hal ini dihukumi marfu’ atau sama dengan hadits yang dinisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW, karena dalam hal ini tidak ada ruang bagi pendapat pribadi para sahabat.

Al-Baqillani juga menganalogikan pernyataan tabi’in dan sahabat. Alasannya, karena para tabi’in telah menyaksikan para saksi hidup wahyu tersebut, yaitu sahabat. Merekalah yang menyampaikan informasi tersebut kepada kita.

Selain melalui pernyataan dari para sahabat dan tabi’in, para ulama juga mengelompokkan dan meneliti ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyah melalui qiyas ijtihadi. Jika di dalam surat tersebut terdapat ciri-ciri Makki lebih dominan daripada Madani, maka surat tersebut termasuk kedalam surat Makkiyyah, begitupun sebaliknya. Darimana para ulama mengambil landasan untuk mengidientifikasi antara surat Makkiyyah dan Madaniyah?

Terdapat empat sandaran teori para ulama dalam menentukan kriteria untuk memisahkan antara surat Makkiyyah dan Madaniyah. Mengetahui dari tempat turunnya ayat atau surat, dari sasaran turunnya, dari waktu turunnya dan dari isi yang terkandung dalam surat tersebut.

Bersambung ke bagian 2 insya Allah

Daftar Pustaka :
1. Suyuthi,Imam Jalaluddin.Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Jilid 1.Arab Saudi:Markaz Dirasat Qur’aniyah
2. Al-Qaththan, Manna’.1973.Mabahits fi Ulum Al-Qur’an.Mansyurat Al-Ash Al-Hadits Studi Ilmu-Ilmu AL-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.